Pages

Air Mata


Dalam sepekat cahaya Tuhan membawa air mata

Jika mampu kau rasakan aku telah mati

Tak ada sedikitpun hembusan angin yang selalu menggelora

Hanya hitam yang dapat kuhirup

Hanya sesak yang dapat kubawa

Melayang

Dapatkah aku terjun ke bebatuan saja?

Tak ingin lagi aku bertemu dengan cahaya gemerlap yang tersenyum dengan memukau

Tariklah benang ini sesukamu

Seret saja jiwa ini sekasar mungkin

Sesering mungkin

Biarkan aku berpijak dengan tanpa kaki

Tak masalah

Sungguh aku tak peduli lagi

Jika memang benar semua yang telah kulakukan

Hembusan angin tak akan pernah menyapaku lagi

Rasa ini bisa hancur dengan sendirinya

Tak peduli seberapa kosong jiwa ini

Tetaplah [tulisanku berhenti di sini, entah apa lanjutannya]


November, 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar